Mencari makanan halal di yang zhou china

Makan di warung muslim
Bagi yang muslim, ada beberapa rumah makan yang menuliskan halal di depan warungnya meskipun harganya lebih mahal dibandingkan dengan rumah makan china yang lainnya. Menu yang tertera selalu menggunakan hanse (huruf china) ada beberapa warung yang menyediakan gambar sehingga memudahkan warga asing memilih menu. Berbagai olahan daging dan sayur tersedia disini, nasi putih sampai nasi goreng juga tersedia. Penampilan resto di tiongkok sama seperti resto pada umumnya bangunan tinggi berdinding kaca dihiasi ornamen-ornamen dan kaligrafi bernuansa timur tengah, meskipun masih kental dengan budaya china.
 
Menu yang tertera pada kantin muslim dan hasil terjemahan sendiri

Sepulang sholat jum’at kami berenam berencana mencari restorant halal di sekitaran masjid dan akhirnya menemukan resto di dekat Dongguan jie. Ketika masuk resto dan ingin mengambil tempat duduk si pelayan mendatangi kami dan meminta kami naik di lantai 2, dan ternyata kamidisediakan tempat VIP (wah serasa naik levelnya, heheh....). kami memesan oseng daging kambing, soup ikan kakap, soup ayam, sayur , nasi goreng hijau, lan zhou chao fan dan nasi putih dengan porsi yang selalu besar (porsi china) sangat nikmat sekali sangat familiar rasanya (bisa diulang ini lain waktu) lumayan murah pula cukup membayar 164 yuan atau setara 328 ribu rupiah.Ada dua perbedaan yang saya dan teman-teman rasakan. pertama, tidak adanya minuman air putih yang ada teh hijau tanpa gula dan semacam sup sebagai minuman. perbedaan kedua yang sempat membuat saya bingung adalah tidak adanya sendok makan. Hanya ada piring, garpu, sendok bubur dan tongkat kayu seukuran pensil (saya menyebutnya sumpit). Meski sering kali belepotan tetapi pada akhirnya ludes semua makanan (Wow kenyang). 
 
Suasana restoran muslim

  
  
suasana masjid crane di yangzhou 

Di malam harinya kami ingin mencoba sate china kebetulan kami mendapat kenalan orang china dan ditraktir makan (namanya Hua Cheng berasal dari Tai Zhou sampai kini sudah  seperti family). Makan sate dan minum teh sambil bercerita tentang bangsa masing-masing dengan harga 5 yuan pertusuk yang lumayan besar. Tumis daging kambing dan paprika menambah kenikmatan dan kehangatan. Banyak pengetahuan yang diceritakan oleh teman kami mulai dari kehidupan sosial sampai kehidupan pribadinya. Untuk menjalin silaturahmi antar sesama muslim kami mengundang mahasiswa muslim indonesia dari kampus lain untuk makan bersama setiap sabtu malam sebelum kegiatan ngaji bersama.
 
Makan bersama mahasiswa indonesia dan teman-teman muslim
yang ada di Yangzhou sebelum kegiatan ngaji bersama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar