Kesan terakhir
Perjalanan di Tiongkok sudah berakhir akan tetapi masih banyak cerita yang perlu diungkap, sisi baik dan juga sisi yang kurang baiknya perlu kiranya untuk dibagi. Bagian akhir Catatan Perjalanan ini akan mengungkap hal-hal yang belum terekam di bagian sebelumnya.
Sebenarnya, bandara kita yang telah berlabel Internasional, seperti Juanda tidak kalah bersaing dengan bandara sekelasnya di Tiongkok. Sama-sama bersih, juga sama-sama canggih. Meski demikian menurut pengamatan saya ada sejumlah perbedaan yang cukup menarik untuk diulas khususnya kepada para calon penumpang pesawat.
Soal kebersihan, kita masih bisa mengalahkan orang Tiongkok bahkan menurut saya tiongkok adalah kota yang bersih tetapi kumuh. Bau yang mengganggu selalu tercium dimana-mana. Demikian juga kebiasaan penduduknya dalam meludah di sembarang tempat. Sering kali terdengar suara mulut “khaaak...” dimana-mana. Tidak hanya di kamar kecil, pintu masuk pesawatpun tak luput dari ciri khas itu bahkan di ruang tunggu. Saya sempat berfikir, andai saja hal itu terjadi di Indonesia, pasti orang semacam itu akan sering menerima hadiah ‘bogem mentah’ dari siapapun yang ada di sekitarnya. Ironisnya, hal itu juga terjadi di dalam pesawat dan berlanjut ke bandara tujuan.
Masalah ketertiban, tampaknya kita masih saja lebih unggul daripada mereka. Ketika pesawat yang saya tumpangi baru saja mendarat di bandara Pu Dong, Shanghai, terdengarlah pengumuman bahwa pesawat telah mendarat dan akan berhenti di tempat yang sudah ditentukan. Saat itulah banyak diantara warga Tiongkok yang memilih langsung berdiri. Beberapa diantara mereka bahkan terlihat menurunkan barang dari bagasi di atas tempat duduknya. Padahal secara teknis hal itu tidak diperbolehkan sebelum pesawat benar-benar berhenti. Mereka baru duduk kembali setelah salah satu pramugari menyuruh mereka untuk duduk kembali dengan nada tinggi.
Dalam hal ketertiban di jalan, untuk mobil lumayan tertib akan tetapi masih banyak sekali pesepeda yang melanggar rambu-rambu, melawan arus berhenti seenaknya tanpa memperhatikan yang dibelakang.
Di dalam toilet, untuk Anda yang tidak terbiasa dengan toilet kering, sebaiknya selalu menyediakan botol air mineral di dalam tas seperti yang kami lakukan. Jika perlu sekalian masker untuk menutup hidung. Begitu masuk toilet, kesan pertama yang akan muncul adalah bersih, kering, tetapi menusuk hidung. Dimanapun toiletnya, kesan yang dihasilkan selalu sama karena petugas kebersihan hanya bekerja menjelang toilet tutup pada pukul 21.30. Selepas dari toilet, Penggunaan air semuanya menggunakan sensor panas tubuh. Misalnya menggunakan air di watafel dengan mendekatkan telapak tangan pada ujung kran maka air mengalir dengan sendirinya. Di toilet sebaliknya jika kita meninggalkan ruang toilet maka air akan mengalir membawa sampah kita. Anda tidak akan menemui kotak sumbangan kebersihan karena semua sudah diurus pemerintah.
Pembatasan terhadap jumlah anak dalam satu keluarga merupakan hal yang lumrah sehingga aborsi adalah hal yang wajar. Bahkan beberapa resto menyediakan sup janin bayi. Akan tetapi saat ini kebijakan pemerintah tiongkok sudah memperbolehkan penduduknya mempunyai 2 anak. Paham patrialis membuat penduduk china memilih anak laki-laki dan melakuka aborsi jika diketahui anak yang dikandung adalah anak perempuan. Mengetahui hal ini pemerintah melarang wanita hamil memeriksakan kehamilannya menggunakan USG, kecuali ada hal yang sangat diperlukan seperti keadaan darurat.
Penggunaan ponsel, seperti yang ada dinegara kita, untuk dapat menggunakan ponsel kita bisa membeli kartu perdana china mobile dengan harga 50 yuan untuk paket 2G dalam satu bulan. Ada pengalaman menarik yang saya alami. Penggunaan data 2G habis dalam 2 minggu karena sering memakai video call dengan keluarga di rumah. Pulsa mengalami negatif 11.85 yuan. Pulsa negatif ini akan memotong nilai pembelian pulsa berikutnya. Saya berencana membeli paket data, ternyata di tolak oleh pihak counter dengan mengatakan bahwa jatah anda bulan ini sudah habis jika anda mau membeli hanya mendapatkan 300M dengan harga 30 Yuan. Dengan terpaksa saya membeli paket tersebut, akan tetapi dalam pemakaian 1 hari data tersebut habis. Saya ceritakan pengalaman ini kepada teman china, dia bersedia membantu dan akhirnya kami dapatkan gratisan data 300M dengan membeli pulsa 100 yuan. Untuk pemakaian data berikutnya setelah data habis maka akan memotong nilai pulsa tersebut 10 yuan untuk 100M dan kelipatannya.
Pemakaian wifi, untuk dapat memakai wifi di kampus ataupun di dormitori kami harus membayar 4,5 yuan untuk pemakaian 1 jam. Ada juga wifi dari china mobile dengan tarif yang sama. Tidah ada yang gratis di china semua serba diatur termasuk hujan seperti diatur pula, seperti yang kami alami selama 1,5 bulan di yangzhou hujan turun setiap hari sabtu dan minggu sehari penuh. (mungkin hanya kebetulan saja).
ini hanya sepenggal kisah perjalanku dan istriku di negeri tiongkok, maaf jika ada kalimat yang tidak berkenan, kami hanya mengungkap apa yang kami ketahui dan kami rasakan.
tunggu kisah kami selanjutnya, love you mama,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar