Kesan pertama memasuki udara tiongkok
Rasa was-was menerpa kami, petir menyambar tiada henti dan pesawat mengalami turbulensi, getaran pesawat terasa sangat kuat, hanya berdoa pada tuhan dan pasrahkan pesawat ini pada sang kapten. Setelah 6 jam perjalanan akhirnya kami tiba di pudhong airport waktu menunjukkan pukul 00.30 waktu shanghai. Setelah melewati proses imigrasi kami keluar kearah penjemputan disana kami disambut para volunter dari yangzhou university yang terdiri dari dua orang cewek dan 1 orang cowok, hanya satu yang lumayan memahami bahasa inggris. Kami di himbau untuk istirahat sambil menunggu jam 05.00 waktu shanghai.
Saat yang di tunggu telah tiba udara yang sejuk berkabut menyelimuti kami, perjalanan yang pajang tidak terasa melelahkan, rasa kagum akan ciptaan yang maha kuasa akan alam yang benar-benar berbeda terlihat dari bentuk dan warna daun tanaman di kanan dan kiri jalan, terlebih lagi matahari yang enggan muncul seharian bahkan hampir 1,5 bulan kami di yangzhoupun hanya beberapa hari saja matahari muncul spenuhnya(maklum peralihan dari musim dingin ke summer).Gedung-gedung menjulang tinggi, jalan-jalan yang lumayan lebar dan sepinya kendaraan menambah kagum kami.
Jalanan shanghai di pagi hari
Kebijakan pemerintah dengan membatasi kendaraan pribadi dengan pajak yang tinggi, dan fasilitas umum yang cukup nyaman membuat negeri ini terkesan tertib bebas dari kemacetan. Perjalanan 5 jam akan kami tempuh shanghai-yangzhou. Pernah saya bertanya berapa jarak shanghai-yangzhou mereka tidak tahu pasti, untuk mengetahuinya sesekali saya mengintip speedometer yang sering menujuk angka 110 km/jam. Bisa diperkirakan apabila perjalanan 5 jam dengan kecepatan rata-rata100 km/jam maka jarak yang ditempuh adalah 500 km. Wow....
Jam berdering menandakan pukul 10.00 waktu yangzhou tepat kami memasuki gerbang kampus, “kesan pertama begitu menggoda” rasa penasaran dan kagum tidak pernah ada habisnya, dengan melihat pohon-pohon yang mulai berbunga dengan warna dan bentuk yang belum pernah dijumpai di iklim tropis. Terlebih lagi kami disambut dengan suara “assalamu’alaikum” dari seorang berperawakan pendek bongsor dengan mata sipitnya yang akhir-akhir ini saya ketahui sebagai chef di kantin kampus, Subhanalloh... ternyata muslim lumayan banyak dinegeri komunis ini. Setelah turun dari bus kami dikumpulkan dalam satu ruangan di dormitori kampus untuk melakukan check in dan check ulang data kami untuk administrasi kampus bersama Mr. Thong dan Mss. Rachel.
Suasana dormitori dan pemandangan di luar

